JUJUR PADA DIRI SENDIRI

oleh : Wawan TBH

Suatu hari di Padepokan Kehidupan, nampak Guru Bijakbestari (GB) sedang bercengkrama dengan para santri.

GB : Anak-anakku, tahukah kalian salah satu cara untuk menjaga dan memperkuat fithrah dalam diri kita?

Santri-santri: Tidak Guru…, apakah itu?

GB: Jujur pada diri sendiri. Iya, dengan jujur pada diri sendiri banyak manfaat yang akan kita peroleh, di antaranya:

• Memperkuat sifat jujur yang merupakan salah satu ciri akhlak mulia.

• Menguatkan suara hati nurani, yang merupakan suara kebenaran dalam diri kita.

• Memperkuat dasar-dasar keyakinan terhadap nilai-nilai kebenaran universal.

• Menguatkan kepekaan terhadap suara-suara dalam batin kita.

S : Guru, bagaimana caranya agar kita bisa jujur pada diri sendiri?

GB: Anakku, sesungguhnya jujur pada diri sendiri adalah hal paling sederhana yang Allah lekatkan pada kita sebagai ciptaannya. Dalam diri kita telah Allah ciptakan perangkat non material, yaitu hati nurani (hati yang tercahayai oleh Nur Ilahi, untuk membedakan hati yang terkuasai dengan hal-hal jahat dalam diri) dan akal sehat (akal yang konsisten dan taat pada kaidah-kaidah berpikir benar, untuk membedakan dengan akal yang tidak taat dengan kaidah-kaidah berpikir benar).

Dua insrtumen ini merupakan perpanjangan suara Allah dalam diri kita. Nah, untuk bisa jujur pada diri sendiri, kita hanya membutuhkan mendengarkan suara-suara Ilahi ini dan memenangkan dalam pertempuran melawan suara-suara yang lain.

S : Mengapa pada kebanyakan kita sepertinya merasa kesulitan untuk berlaku jujur pada diri sendiri?

GB: Seorang dewasa akan kesulitan berbuat jujur pada diri sendiri jika yang bersangkutan terbiasa melakukan hal-hal berikut, a.l.:

• Beranggapan bahwa tidak ada suara dari dalam diri manusia

• Menurutkan hawa nafsu

• Terlalu berorientasi pada penumpukan harta pada ukuran kebahagiaannya

• Menjadikan kehormatan diri di mata manusia sebagai ukuran keberhasilan hidupnya.

• Tidak membiasakan melakukan perenungan/kontemplasi

• Terbiasa lebih mendengarkan saran-saran orang lain dari pada suara dari dalam dirinya

• Dsb.

Nah anakku, hendaknya kita sebagai hamba yang beriman marilah kita membiasakan berbuat jujur pada diri kita sendiri, agar kita pun kemudian terbiasa jujur pada Allah maupun makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengan jujur pada diri kita sendiri semoga Allah memperkuat fithrah kita.

Santri-santri: Baik Guru, mohon doanya Guru…

GB : Insya Allah anak-anakku, nah karena adzan maghrib sudah berkumandang, marilah kita bersiap-siap melaksanakan shalat maghrib berjamaah di masjid…

Demikianlah senja itu seperti senja-senja hari sebelumnya pada Padepokan Kehidupan nan senantiasa tenang dan terdengar senandung bacaan shalat yang disuarakan oleh suara berat serak basah dari Sang Gur Bijakbestari sebagai imam shalat.[]

:: Antapani, 17 April 2010 ::

Sumber Gambar:

1. http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:DVpsmvDW-uFq9M:http://api.ning.com/files/aaMIEc0IMYTa3AlePAZWaZ0mZHmsxL*50UCCRNIW0oMyRrhdz5xm-kx2lbVEBbVJ6w1Y*bPlzXbLUzIs0Grb-Ii2q0Zvjnof/spongbob01.jpg

2. http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:u5mRjsDwx9YsMM:http://www.al-hanin.com/wp-content/uploads/2009/02/al_jalalah_hati.gif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s